Sistem
a. Pengertian Sistem
Suatu sistem adalah jaringan kerja prosedur-prosedur yang saling berhubungan,
berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu
sasaran tertentu (Jogiyanto, 2009:1). Menurut Murdik (2002 : 27) bahwa sistem
adalah seperangkat elemen yang membentuk kegiatan atau suatu prosedur atau
bagian pengolahan yang mencari suatu tujuan-tujuan bersama dengan
mengoperasikan data atau barang pada waktu tertentu untuk menghasilkan
informasi atau energi atau barang.
Menurut Gerald J dalam kutipan buku karya Al Bahra bin Ladjamudin (2005:3)
mendefinisikan sistem sebagai : “Suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur
yang saling berhubungan berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan
atau fungsi utama dari perusahaan atau organisasi untuk mencapai sasaran
tertentu”
Pengertian
Sistem Menurut Indrajit (2001: 2) mengemukakan bahwa sistem mengandung arti
kumpulan-kumpulan dari komponen-komponen yang dimiliki unsur keterkaitan antara
satu dengan lainnya
Pengertian
Sistem Menurut Davis, G.B, (1991 : 45 ) Sistem secara fisik adalah kumpulan
dari elemen-elemen yang beroperasi bersama-sama untuk menyelesaikan suatu
sasaran
Definisi
Sistem Menurut Harijono Djojodihardjo (1984: 78) “Suatu sistem adalah
sekumpulan objek yang mencakup hubungan fungsional antara tiap-tiap objek dan
hubungan antara ciri tiap objek, dan yang secara keseluruhan merupakan suatu
kesatuan secara fungsional.”
Definisi
Sistem Menurut Lani Sidharta (1995: 9), “Sistem adalah himpunan dari
bagian-bagian yang saling berhubungan yang secara bersama mencapai
tujuan-tujuan yang sama”
Dari pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sistem
adalah sebuah variabel yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi dalam melakukan
kegiatan bersama untuk mencapai sasaran tertentu
b. Elemen Sistem
Menurut Sigit (2010 : 1) bahwa sistem memiliki komponen-komponen diantaranya
: Penghubung sistem, batasan sistem lingkungan luar, masukan, keluaran, dan
tujuan. Menurut Budiarti (2009 : 8) menyatakan bahwa elemen sistem adalah bagian
tang terkecil yang teridentifikasi, ini merupakan penyusunan dari sistem.
c. Karakteristik Sistem
Suatu sistem mempunyai karakteristik atau sifat-sifat yang
tertentu, yaitu mempunyai komponen, batas sistem, lingkungan luar sistem,
penghubung, masukan, keluaran, tujuan (Jogiyanto, 2009:3). Adapun pengertian
dari masing-masing karakteristik Sistem tersebut adalah sebagai berikut :
1) Komponen Sistem
Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi,
yang artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan.
2) Batasan Sistem
Batasan sistem (boundary)
merupakan daerah yang membatasi antara suatu dengan Sistem yang lainnya atau
dengan lingkungan luarnya.
3) Lingkungan Luar Sistem
Lingkungan luar sistem (envronment) dari suatu sistem adalah apapun
diluar batas dari sistem yang mempengaruhi oprerasi sistem.
4) Penghubung Sistem
Penghubung (interface)
merupakan media penghubung antara satu sub sistem dengan sub sistem yang
lainya.
5) Masukan Sistem
Masukan (input) energi yang dimasukkan ke dalam sistem. Masukan
dapat berupa masukan perawatan (maintenance input) dan masukan sinyal (signal
input). Maintenance input adalah
energi yang dimasukkan supaya sistem tersebut dapat beroperasi. Signal input adalah
energy yang diproses untuk didapatkan keluaran.
6) Keluaran Sistem
Keluaran (output) adalah
hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang
berguna dan sisa pembuangan.
7) Pengolahan Sistem
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolahan yang akan
merubah masukan menjadi keluaran.
8) Sasaran atau Tujuan Sistem
Sasaran dari sistem sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan
sistem dan keluaran yang dihasilkan sistem. Suatu sistem pasti mempunyai tujuan
atau sasaran, kalau tidak mempunyai sasaran maka operasi sistem tidak ada
gunanya. Sasaran dari sistem sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan
sistem dan keluaran yang akan dihasilkan sistem. Suatu sistem dikatakan
berhasil bila mengenai sasaran atau tujuannya
Manajemen
1. Pengertian manajemen
Secara
etimologis kata manajemen berasal dari bahasa Perancis Kuno ménagement, yang berarti seni
melaksanakan dan mengatur. Sedangkan secara terminologis para pakar
mendefinisikan manajemen secara beragam, diantaranya:
Follet
yang dikutip oleh Wijayanti (2008: 1) mengartikan manajemen sebagai seni dalam
menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Menurut Stoner yang dikutip oleh
Wijayanti (2008: 1) manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan
sumber daya-sumber daya manusia organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi
yang telah ditetapkan.
Gulick
dalam Wijayanti (2008: 1) mendefinisikan manajemen sebagai suatu bidang ilmu
pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa
dan bagaimana manusia bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan dan membuat
sistem ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan.
Schein
(2008: 2) memberi definisi manajemen sebagai profesi. Menurutnya manajemen
merupakan suatu profesi yang dituntut untuk bekerja secara profesional,
karakteristiknya adalah para profesional membuat keputusan berdsarkan
prinsip-prinsip umum, para profesional mendapatkan status mereka karena mereka
mencapai standar prestasi kerja tertentu, dan para profesional harus ditentukan
suatu kode etik yang kuat.
Terry
(2010: 1) memberi pengertian manajemen yaitu suatu proses: atau kerangka kerja,
yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah
tujuan-tujuan organisasional atau maksudmaksud yang nyata. Hal tersebut
meliputi pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan, menetapkan cara
bagaimana melakukannya, memahami bagaimana mereka harus melakukannya dan
mengukur efektivitas dari usaha-usaha yang telah dilakukan.
Dari
beberapa definisi yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen
merupakan usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk menentukan dan
mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling). Manajemen merupakan sebuah
kegiatan; pelaksanaannya disebut manajing dan orang yang melakukannya disebut
manajer.
Manajemen
dibutuhkan setidaknya untuk mencapai tujuan, menjaga keseimbangan di antara
tujuan-tujuan yang saling bertentangan, dan untuk mencapai efisiensi dan
efektivitas. Manajemen terdiri dari berbagai unsur, yakni man, money, method, machine, market, material dan information.
a. Man : Sumber daya
manusia;
b. Money : Uang yang
diperlukan untuk mencapai tujuan;
c. Method : Cara atau sistem
untuk mencapai tujuan;
d. Machine :
Mesin atau alat untuk berproduksi;
e. Material :
Bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan;
f. Market : Pasaran atau
tempat untuk melemparkan hasil produksi;
g. Information :
Hal-hal yang dapat membantu untuk mencapai tujuan
Fungsi-fungsi
manajerial
Menurut
Terry (2010: 9), fungsi manajemen dapat dibagi menjadi empat bagian, yakni planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan), dan controlling (pengawasan) :
1) Planning (Perencanaan)
a. Pengertian
Planning.
Planning
(perencanaan) ialah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok
untuk mencapai tujuan yang digariskan. Planning mencakup kegiatan pengambilan
keputusan, karena termasuk dalam pemilihan alternatif-alternatif keputusan. Diperlukan
kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan
suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa mendatang.
b. Proses
Perencanaan
Proses
perencanaan berisi langkah-langkah:
a) Menentukan
tujuan perencanaan;
b) Menentukan
tindakan untuk mencapai tujuan;
c) Mengembangkan
dasar pemikiran kondisi mendatang;
d) Mengidentifikasi
cara untuk mencapai tujuan; dan Mengimplementasi rencana tindakan dan
mengevaluasi hasilnya.
c. Elemen
Perencanaan
Perencanaan
terdiri atas dua elemen penting, yaitu sasaran (goals) dan rencana (plan).
a) Sasaran
yaitu hal yang ingin dicapai oleh individu, kelompok, atau seluruh organisasi.
Sasaran sering pula disebut tujuan. Sasaran memandu manajemen membuat keputusan
dan membuat kriteria untuk mengukur suatu pekerjaan.
b) Rencana
adalah dokumen yang digunakan sebagai skema untuk mencapai tujuan. Rencana
biasanya mencakup alokasi sumber daya, jadwal, dan tindakan-tindakan penting lainnya.
Rencana dibagi berdasarkan cakupan, jangka waktu, kekhususan, dan frekuensi
penggunaanya.
d. Unsur-unsur
Perencanaan
Suatu
perencanaan yang baik harus menjawab enam pertanyaan yang tercakup dalam
unsur-unsur perencanaan yaitu:
a) Tindakan
apa yang harus dikerjakan, yaitu mengidentifikasi segala sesuatu yang akan
dilakukan;
b) Apa sebabnya
tindakan tersebut harus dilakukan, yaitu merumuskan faktor-faktor penyebab
dalam melakukan tindakan;
c) Tindakan
tersebut dilakukan, yaitu menentukan tempat atau lokasi;
d) Kapan
tindakan tersebut dilakukan, yaitu menentukan waktu pelaksanaan tindakan;
e) Siapa
yang akan melakukan tindakan tersebut, yaitu menentukan pelaku yang akan
melakukan tindakan; dan
f) Bagaimana
cara melaksanakan tindakan tersebut, yaitu menentukan metode pelaksanaan
tindakan.
e. Klasifikasi
perencanaan
Rencana-rencana
dapat diklasifikasikan menjadi:
a) Rencana
pengembangan. Rencana-rencana tersebut menunjukkan arah (secara grafis) tujuan
dari lembaga atau perusahaan;
b) Rencana
laba. Jenis rencana ini biasanya difokuskan kepada laba per produk atau
sekelompok produk yang diarahkan 10 oleh manajer. Maka seluruh rencana berusaha
menekan pengeluaran supaya dapat mencapai laba secara maksimal;
c) Rencana
pemakai. Rencana tersebut dapat menjawab pertanyaan sekitar cara memasarkan suatu
produk tertentu atau memasuki pasaran dengan cara yang lebih baik; dan
d) Rencana
anggota-anggota manajemen. Rencana yang dirumuskan untuk menarik,
mengembangkan, dan mempertahankan anggota-anggota manajemen menjadi lebih
unggul (Terry, 2010: 60).
f. Tipe-tipe
Perencanaan
Tipe-tipe
perencanaan terinci sebagai berikut:
a) Perencanaan
jangka panjang (Short Range Plans),
jangka waktu 5 tahun atau lebih;
b) Perencanaan
jangka pendek (Long Range Plans),
jangka waktu 1 s/d 2 tahun;
c) Perencanaan
strategi, yaitu kebutuhan jangka panjang dan menentukan komprehensif yang telah
diarahkan;
d) Perencanaan
operasional, kebutuhan apa saja yang harus dilakukan untuk mengimplementasikan
perencanaan strategi untuk mencapai tujuan strategi tersebut;
e) Perencanaan
tetap, digunakan untuk kegiatan yang terjadi berulang kali (terus-menerus); dan
f) Perencanaan
sekali pakai, digunakan hanya sekali untuk situasi yang unik.
g. Dasar-dasar
Perencanaan yang Baik
Dasar-dasar
perencanaan yang baik meliputi:
a) Forecasting,
proses pembuatan asumsi-asumsi tentang apa yang akan terjadi pada masa yang
akan datang;
b) Penggunaan
skenario, meliputi penentuan beberapa alternatif skenario masa yang akan datang
atau peristiwa yang mungkin terjadi;
c) Benchmarking,
perbandingan eksternal untuk mengevaluasi secara lebih baik suatu arus kinerja
dan menentukan kemungkinan tindakan yang dilakukan untuk masa yang akan datang;
d) Partisipan
dan keterlibatan, perencanaan semua orang yang mungkin akan mempengaruhi hasil
dari perencanaan dan atau akan membantu mengimplementasikan perencanaan-perencanaan
tersebut; dan
e) Penggunaan
staf perencana, bertanggung jawab dalam mengarahkan dan mengkoordinasi sistem
perencanaan untuk organisasi secara keseluruhan atau untuk salah satu komponen
perencanaan yang utama.
h. Tujuan
Perencanaan
a) Untuk
memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan non-manajerial;
b) Untuk
mengurangi ketidakpastian;
c) Untuk
meminimalisasi pemborosan; dan
d) Untuk
menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya.
e) Sifat
Rencana yang Baik
Rencana
dikatakan baik jika memiliki sifat sifat-sifat sebagai berikut:
a) Pemakaian
kata-kata yang sederhana dan jelas;
b) Fleksibel,
suatu rencana harus dapat menyesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya;
c) Stabilitas,
setiap rencana tidak setiap kali mengalami perubahan, sehingga harus dijaga
stabilitasnya;
d) Ada dalam
pertimbangan; dan
e) Meliputi
seluruh tindakan yang dibutuhkan, meliputi fungsi-fungsi yang ada dalam
organisasi.
2) Organizing (Pengorganisasian)
a. Pengertian
Pengorganisasian
Organizing
berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat, yaitu proses
pengelompokan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan dan penugasan
setiap kelompok kepada seorang manajer (Terry & Rue, 2010: 82). Pengorganisasian
dilakukan untuk menghimpun dan mengatur semua sumber-sumber yang diperlukan,
termasuk manusia, sehingga pekerjaan yang dikehendaki dapat dilaksanakan dengan
berhasil.
b. Ciri-ciri
Organisasi
Ciri-ciri
organisasi adalah sebagai berikut:
a) Mempunyai
tujuan dan sasaran;
b) Mempunyai
keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati;
c) Adanya
kerjasama dari sekelompok orang; dan
d) Mempunyai
koordinasi tugas dan wewenang.
c. Komponen-komponen
Organisasi
Ada
empat komponen dari organisasi yang dapat diingat dengan kata “WERE” (Work, Employees, Relationship dan Environment).
a) Work (pekerjaan) adalah
fungsi yang harus dilaksanakan berasal dari sasaran-sasaran yang telah
ditetapkan.
b) Employees
(pegawai-pegawai) adalah setiap orang yang ditugaskan untuk melaksanakan bagian
tertentu dari seluruh pekerjaan.
c) Relationship
(hubungan) merupakan hal penting di dalam organisasi. Hubungan antara pegawai
dengan pekerjaannya, interaksi antara
satu pegawai dengan pegawai lainnya dan unit kerja lainnya dan unit kerja
pegawai dengan unit kerja lainnya merupakan hal-hal yang peka.
d) Environment
(lingkungan) adalah komponen terakhir yang mencakup sarana fisik dan sasaran
umum di dalam lingkungan dimana para pegawai melaksanakan tugas-tugas mereka,
lokasi, mesin, alat tulis kantor, dan sikap mental yang merupakan faktor-faktor
yang membentuk lingkungan.
d. Tujuan
organisasi
Tujuan
organisasi merupakan pernyataan tentang keadaan atau situasi yang tidak
terdapat sekarang, tetapi dimaksudkan untuk dicapai pada waktu yang akan dating
melalui kegiatan-kegiatan organisasi (Handoko, 2012: 109).
e. Prinsip-prinsip
organisasi
Williams
(1996: 85) mengemukakan pendapat bahwa prinsip-prinsip organisasi meliputi :
a) Prinsip
bahwa organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas ;
b) Prinsip
skala hirarki;
c) Prinsip
kesatuan perintah;
d) Prinsip
pendelegasian wewenang;
e) Prinsip
pertanggungjawaban;
f) Prinsip
pembagian pekerjaan;
g) Prinsip
rentang pengendalian;
h) Prinsip
fungsional;
i) Prinsip
pemisahan;
j) Prinsip
keseimbangan;
k) Prinsip
fleksibilitas; dan
l) Prinsip
kepemimpinan.
f. Manfaat
pengorganisasian
Pengorganisasian
bermanfaat sebagai berikut:
1) Dapat
lebih mempertegas hubungan antara anggota satu dengan yang lain;
2) Setiap
anggota dapat mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab;
3) Setiap
anggota organisasi dapat mengetahui apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab
masing-masing sesuai dengan posisinya dalam struktur organisasi;
4) Dapat
dilaksanakan pendelegasian wewenang dalam organisasi secara tegas, sehingga
setiap anggota mempunyai kesempatan yang sama untuk berkembang; dan
5) Akan
tercipta pola hubungan yang baik antar anggota organisasi, sehingga
memungkinkan tercapainya tujuan dengan mudah.
3) Actuating (Pelaksanaan)
Pelaksanaan
merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa, hingga
mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan
bersama Terry (2005:62).
4) Controlling (Pengawasan)
a. Pengertian
Controlling
Controlling
atau pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan alat utk menjamin bahwa
rencana telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
b. Tahap-tahap
Pengawasan
Tahap-tahap
pengawasan terdiri atas:
a) Penentuan
standar;
b) Penentuan
pengukuran pelaksanaan kegiatan;
c) Pengukuran
pelaksanaan kegiatan;
d) Pembanding
pelaksanaan dengan standar dan analisa penyimpangan; dan
e) Pengambilan
tindakan koreksi bila diperlukan.
c. Tipe-tipe
Pengawasan
a) Feedforward Control
dirancang untuk mengantisipasi masalah-masalah dan penyimpangan dari standar
tujuan dan memungkinkan koreksi sebelum suatu kegiatan tertentu diselesaikan.
b) Concurrent Control
merupakan proses dalam aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui dulu
sebelum suatu kegiatan dilanjutkan atau untuk menjamin ketepatan pelaksanaan
suatu kegiatan.
c) Feedback Control
mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah dilaksanakan
Pengertian
Persedian
Persediaan
ditunjukan untuk barang-barang yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan bisnis
normal, dan dalam kasus perusahaan manufaktur, maka kata ini ditunjukan untuk
barang dalam proses produksi atau yang ditempatkan dalam kegiatan produksi,
tetapi pada perusahaan jasa pun persediaan diperlukan untuk menyalurkan hasil
yang telah diolah dari persedaiaan tersebut. Karakteristik dari barang yang
diklasifikasikan sebagai persediaan sangat bervariasi terhadap jenis kegiatan
usaha. Sistem pengendalian persediaan barang
dagang ataupun persediaan bahan baku
harus dilaksanakan seefektif mungkin dalam suatu perusahaan untuk mencegah dan
menghindari terjadinya kelebihan maupun kekurangan persediaan.
Menurut
Sartono dalam buku “Manajemen Keuangan. Teori Konsep dan Aplikasi” definisi
persediaan adalah : “Persediaan pada umumnya merupakan salah satu jenis aktiva lancar
yang jumlahnya cukup besar dalam suatu perusahaan.” (2001 : 443)
Sedangkan
definisi menurut Soemarso dalam buku “Akuntansi Suatu Pengantar” adalah sebagai
berikut : “Persediaan merupakan barang-barang yang dimiliki perusahaan untuk
dijual kembali atau digunakan dalam kegiatan perusahaan.” (2005 : 229)
Menurut
Harjanto (2008, h.237) Sistem pengendalian persediaan dapat didefinisikan
sebagai serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan
yang harus dijaga, kapan pemesanan untuk menambah persediaan harus dilakukan
dan berapa pesanan yang harus diadakan.
Rangkuti (2002 ; 14) Sistem persediaan adalah
serangkaian kebijakan dan pengendalian yang memonitor tingkat persediaan dan
menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus
disediakan dan berapa besar pesanan yang harus dilakukan. Dalam organisasi
persediaan sangat penting karena: (1) Adanya unsur ketidakpastian permintaan
(permintaan yang mendadak ) dari bagian, (2) Adanya unsur ketidakpastian
pasokan dari supplier, dan (3) Adanya unsur ketidakpastian tenggang waktu
pemesanan. (Yamid, 2003 ; 6)
Klasifikasi Persediaan
Menurut
Kieso, Weygandt, Warfield (2009, h.402) Persediaan (inventory) adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan
untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau
dikonsumsi. Investasi dalam persediaan merupakan aktiva lancar paling besar
dari perusahaan barang dagang dan manufaktur.
Jenis-jenis Persediaan
Adapun
jenis-jenis persediaan yang tergantung pada karakteristik perusahaan itu
sendiri yaitu apakah perusahaan dagang atau perusahaan industri ataupun
perusahaan jasa.
Menurut
Rangkuti (2004 : 14) dalam buku “Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis”
menjelasakan bahwa :
1) Perediaan
bahan mentah (Raw Materials)
2) Persediaan
komponen-komponen rakitan (Purchases
Parts/Components)
3) Persediaan
bahan pembantu penolong (Supplies)
4) Persediaan
barang dalam proses (Work in Proccess)
5) Persediaan
barang jadi (Finished Good)
Berikut
ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai jenis-jenis persediaan tersebut :
1) Persediaan
bahan mentah (Raw Materials)
Yaitu
persediaan barang-barang berwujud seperti besi, kayu, serta komponen-komponen lain
yang digunakan dalam proses produksi.
2) Persediaan
komponen-komponen rakitan (Purchases
Parts/Components) Yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari
komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan lain yang secara langsung
dapat dirakit menjadi suatu produk.
3) Perusahaan
bahan pembantu atau penolong (Supplies)
Yaitu
persediaan barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak
merupakan bagian atau komponen barang jadi.
4) Persediaan
barang dalam proses (Work In Proccess)
Yaitu
persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam
proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu
diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
5) Persediaan
barang jadi (Finished Goods)
Yaitu
persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik
dan siap untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan
Jenis
persediaan yang dimiliki setiap
perusahaan berbeda-beda, tergantung
sifat dan tujuannya.
a. Persediaan
pada Perusahaan Manufaktur.
Menurut
Rangkuti (2007, h.14) Jenis-jenis persediaan pada perusahaan manufaktur yaitu:
persediaan bahan baku, persediaan bahan pembantu pembntu atau penolong,
persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi (siap untuk dijual).
b. Persediaan
pada Perusahaan Dagang
Perusahan
dagang memiliki jenis barang yang terdiri dari: Persediaan perlengkapan (Inventory Of Supplies) dan Persediaan
barang dagangan. (Merchandise Inventory).
Maksud dan
Tujuan Persediaan
Pada prinsipnya maksud persediaan adalah untuk memudahkan dan melancarkan proses produksi suatu perusahaan dalam memenuhi kebutuhan para konsumennya. Adapun maksud dari adanya
persediaan menurut Freddy Rangkuti (2002:2) adalah sebagai berikut:
1)
Karena dibutuhkannya waktu menyelesaikan
operasi dan untuk memindahkan produk dari suatu tingkat proses lainnya yang
disebut persediaan dalam proses dan pemindahan.
2)
Untuk memungkinkan suatu unit atau bagian
membuat jadwal operasinya secara bebas, tidak tergantung dari yang lainnya.
Sedangkan tujuan persediaan menurut Freddy Rangkuti (2002:2), yaitu:
1)
Menghilangkan resiko keterlambatan
datangnya barang/bahan yang dibutuhkan perusahaan.
2)
Menghilangkan resiko dari materi yang
dipesan berkualitas tidak baik sehingga harus dikembalikan.
3)
Untuk mengantisipasi bahan yang
dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada
dalam pasaran.
4)
Mempertahankan stabilitas operasi
perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi
5)
Mencapai penggunaan mesin yang optimal.
6)
Memberikan pelayanan kepada langganan dengan
sebaik-baiknya, dengan memeberikan jaminan tersedianya barang jadi.
7)
Membuat pengadaan atau produksi tidak
perlu sesuai dengan penggunaan atau penjualannya.
Yamit
(2003 ; 6), Tujuan persediaan adalah :
a) Untuk memberikan layanan yang terbaik pada pasien.
b) Untuk memperlancar kegiatan praktikum mahasiswa.
c) Untuk mengatasi kemungkinan terjadinya stockout.
d) Untuk menghadapi fluktuasi harga.
Dengan tujuan di atas dapat disimpulkan bahwa
persediaan diharapkan tersedia dalam jumlah yang optimal, sehingga memperkecil biaya persediaan
yang ditimbulkan akibat kelebihan atau kekurangan stok.
Fungsi-fungsi Persediaan
Persediaan
yang dimiliki perusahaan bertujuan untuk menjaga kelancaran usaha. Bagi
perusahaan dagang persediaan barang dagang memungkinkan perusahaan untuk
memenuhi permintaan pembeli. Sedangkan bagi perusahaan industri, persediaan
bahan baku dan barang dalam proses bertujuan untuk memperlancar kegiatan
produksi, sedangkan persediaan barang jadi ditujukan untuk memenuhi kebutuan
pasar.
Menurut
Siagian (2006, h162-163) fungsi persediaan terbagi atas empat jenis yaitu :
Fungsi Pemisah Wilayah, Fungsi Decoupling,
Fungsi Penyeimbang dengan Permintaan, dan Fungsi Penyangga.
Menurut Yamit (2003:6), ada empat faktor yang dijadikan fungsi dari
persediaan, yaitu:
1) Faktor waktu, menyangkut lamanya proses produksi dan distribusi sebelum
barang jadi sampai kepada konsumen.
2) Faktor ketidakpastian waktu datang dari supplier, menyebabkan
perusahaan memerlukan persediaan agar tidak menghambat proses produksi maupun
keterlambatan pengiriman kepada konsumen.
3) Faktor ketidakpastian penggunaan dari dalam perusahaan, disebabkan oleh
kesalahan dalam peramalan permintaan, kerusakan mesin, keterlambatan operasi,
bahan cacat dan berbagai aspek lainnya.
4) Faktor ekonomis, adalah adanya keinginan perusahaan untuk mendapatkan
alternatif biaya rendah dalam memproduksi atau membeli item dengan menentukan
jumlah yang paling ekonomis.
Menurut Rangkuti (2007 ; 15), Persediaan mempunyai
fungsi :
1) Fungsi Decoupling Persediaan yang memungkinkan
suatu oraganisasi dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada
supplier. Persediaan diadakan agar organisasi tidak akan sepenuhnya tergantung
pada pengadaannya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman.
2) Fungsi Economic Lot Sizing. Persediaan
mempertimbangkan penghematan-penghematan atau potongan pembelian, biaya
pengangkutan per unit menjadi lebih murah. Hal ini disebabkan karena organisasi
melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar, dibandingkan dengan biaya
–biaya yang timbul karena besarnya persediaan ( biaya sewa gedung, investasi,
resiko ).
3) Fungsi Antisipasi. Persediaan untuk menghadapi
fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasarkan
pengalaman atau data masa lalu, yaitu permintaan musiman
Sistem Pencatatan Persediaan
Dalam
sebuah perusahaan, persediaan akan mempengaruhi neraca maupun laporan laba
rugi. Dalam neraca perusahaan dagang, persediaan merupakan nilai yang paling signifikan
dalam aset lancar. Sedangkan dalam laporan laba rugi, persediaan bersifat
penting untuk menentukan hasil operasi perusahaan dalam periode tertentu.
Terdapat
dua macam sistem pencatatan persediaan, yaitu: sistem persediaan periodik dan
sistem persediaan perpetual.
Metode Penilaian Persediaan
Penilaian
persediaan bertujuan untuk mengetahui nilai persediaan yang dipakai/dijual atau
persediaan yang tersisa dalam suatu periode. Persediaan merupakan pos yang
sangat berarti dalam aktiva lancar. Hal itu menyebabkan metode penilaian
persediaan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan.
Menurut
Harjanto (2008, h.263) terdapat tiga metode yang digunakan untuk dalam menilai
persediaan, yaitu: First In First Out
(FIFO), Last In First Out (LIFO), dan
rata-rata tertimbang.
Biaya yang berhubungan dengan Persediaan
Biaya
persediaan dapat diukur dengan total
ekuivalen kas yang digunakan untuk
mendapatkan barang dan mempersiapakannya untuk dijual. Biaya-biaya ini termasuk
biaya pembelian dan biaya yang terjadi sampai barang tersebut siap untuk
dipakai atau dijual kepelanggan.
Menurut
Kieso, et al (2009, h.412) Biaya yang dimasukkan dalam persediaan adalah Biaya
Produk, Biaya Periode, dan Perlakuan atas diskon pembelian.
Untuk pengambilan keputusan penentuan besarnya jumlah
persediaan, biaya-biaya variabel berikut harus dipertimbangkan : (Rangkuti,
2007 : 16)
1) Biaya penyimpanan
2) Biaya pemesanan atau pembelian (ordering costs atau procurement costs)
3) Biaya penyiapan (manufacturing)
4) Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage costs)
Berikut
ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai biaya-biaya persediaan tersebut:
1) Biaya
Penyimpanan
Biaya
penyimpanan (hording cost atau carrying
costs) terdiri atas biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas
persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas
bahan yang dipesan semakin banyak, atau rata-rata persediaan semakin tinggi.
Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah :
a) Biaya
fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pendingin ruangan, dan
sebagainya);
b) Biaya
modal (opportunity cost of capital),
yaitu alternatif pendapatan atas dana yang dinvestasikan dalam persediaan;
c) Biaya
keusangan;
d) Biaya
perhitungan fisik;
e) Biaya
asuransi persediaan;
f) Biaya
pajak persediaan;
g) Biaya
pencurian, pengrusakkan, atau perampokan;
h) Biaya
penanganan pesediaan dan sebagainya.
2) Biaya
pemesanan (ordering costs atau
procurement costs). Biaya-biaya ini meliputi :
a) Pemrosesan
pesanan dan biaya ekspedisi;
b) Upah;
c) Biaya
telepon;
d) Pengeluaran
surat menyurat;
e) Biaya
penegepakan dan penimbangan;
f) Biaya
pemeriksaan (inspeksi) penerimaan;
g) Biaya
pengiriman ke gudang;
h) Biaya
hutang lancar dan sebagainya;
3) Biaya
penyiapan (manufacturing)
Hal
ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli, tetapi diproduksi sendiri ”dalam
pabrik” perusahaan, perusahaan menghadapi biaya penyiapan (set-up costs) untuk memproduksi komponen tertentu. Biaya-biaya ini
terdiri dari :
a) Biaya
mesin-mesin menganggur;
b) Biaya
persiapan tenaga kerja langsung;
c) Biaya
penjadwalan;
d) Biaya
ekspedisi dan sebagainya;
4) Biaya
kehabisan atau kekurangan bahan
Adalah
biaya yang timbul apabila persediaan tidak mencakupi adanya permintaan bahan.
Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut :
a) Kehilangan
penjualan;
b) Kehilangan
pelanggan;
c) Biaya
pemesanan khusus;
d) Biaya
ekspedisi;
e) Selisih
harga;
f) Terganggunya
operasi;
g) Tambahan
pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya
Pengukuran Persediaan
Persediaan
ditunjukan untuk barang-barang yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan
bisnis, untuk itu persediaan haruslah diukur untuk melihat realisasi dari
persediaan mana yang pantas atau tidak untuk dijual. Pengukuran persediaan
menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2004 : 14.2) melalui Pernyataan Standar
Akuntansi No. 14 dalam buku Standar Akuntansi Keuangan adalah sebagai berikut:
”Persediaan
harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih
rendah (the lower of cost and net realizable value).”
Dari
pengertian pengukuran persediaan diatas dapat disimpulkan bahwa pengukuran
persediaan harus diukur dari biaya atau nilai realisasi bersih, mana yang
pantas atau tidak untuk dijual.
Perputaran Persediaan
Dalam
persediaan yang diadakan dalam suatu perusahaan, haruslah diadakannya
perputaran perediaan untuk menanggulangi persediaan-persediaan yang tidak
terpakai.
Pengertian
perputaran persediaan menurut Michell Suharli (2006 : 303) dalam buku ”akuntansi
untuk Bisnis dan Jasa” mengungkapkan bahwa : “Perputaran persediaan (Inventory
Turnover) menentukan berapa kali persediaan (inventory) terjual atau digantikan
dengan persediaan yang baru selama satu tahun, dan memberikan beberapa
pengukuran mengenai likuiditas dan kemampuan suatu perusahaan untuk mengkonversikan
barang persediaannya menjadi uang secara tepat.” Sedangkan menurut Susan Irawati (2006 : 56) dalam
buku yang berjudul “Manajemen Keuangan”menyatakan bahwa: “Inventory turnover
adalah rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas kemampuan dana suatu
perusahaan yang tertanam dalam inventory atau persediaan yang berputar dalam
suatu periode tertentu, atau likuiditas dari inventory dan perkiraan untuk
adanya overstock.”
Menentukan
pesanan persediaan ialah dengan menentukan berapa banyak jumlah persediaan yang
dibutuhkan perusahaan dalam menjalankan kegiatannya. Untuk itu diperlukan metode
EOQ (Economic Order Quantity) agar
dapat menentukan kuantitas persediaan yang ekonomis. Menurut Carter (2009,
h.314) Kuantitas.
Pemesanan
Ekonomis (Economic Order Quantity - EOQ)
adalah jumlah persediaan yang di pesan pada suatu waktu yang meminimalkan biaya
persediaan tahunan.
Dari
pengertian diatas dapat disimpulkan perputaran persediaan menggantikan
persediaan yang sudah usang digantikan dengan persediaan yang baru ataupun
menggantikannya dengan uang. Turnover menunjukkan berapa kali jumlah persediaan
barang dagangan diganti dalam satu tahun (dijual dan diganti).
Untuk
mengetahui rata-rata persediaan tersimpan dalam gudang dapat ditentukan dengan
membagi jumlah hari-hari dalam satu tahun dengan turnover dari persediaan
tersebut.. Adapun cara perhitungan dari perputaran persediaan material adalah sebagai
berikut :
Penjualan
Bersih
Inventory Turnover = --------------------------
Persediaan
Rata-rata
Hasil
perhitungan dari perputaran persediaan bertujuan untuk mengetahui kemampuan
dana yang tertanam dalam inventory berputar dalam suatu periode tertentu.
Persediaan Pengaman (Safety stock)
Untuk
memesan suatu barang sampai barang
itu datang, diperlukan jangka waktu
yang bervariasi dari beberapa jam sampai beberapa bulan.
Perbedaan
waktu antara saat memesan sampai saat barang datang dikenal dengan istilah
waktu tenggang (lead time). Waktu
tenggang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dari barang itu sendiri dan jarak
lokasi antara pembeli dan pemasok berada. Maka dari itu safety stock sangat diperlukan.
Besarnya
persediaan pengaman dapat dihitung sebagai berikut:
SS
Z
= ------
atau SS Zσ
σ
Keterangan:
X = Tingkat persediaan
µ = Rata-rata permintaan
σ = Standar deviasi
permintaan selama waktu tenggang
SS = Persediaan Pengaman
Z = Safety Factor
Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point)
Menurut
Heizer, Render (2010, h.98) Tingkat pemesanan kembali (Reorder Point / ROP) adalah suatu titik atau batas dari jumlah
persediaan yang ada pada suatu saat dimana pemesanan harus diadakan kembali.
Cara
menghitung titik pemesanan kembali (reorder
point):
ROP
Keterangan:
ROP = (LT x AU) + SS
ROP =
titik pemesanan kembali
LT =
waktu tenggang
AU =
Pemakaian rata-rata dalam satuan waktu
tertentu
SS =
Persediaan pengaman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar